sarwidi.wordpress.com

Ikatlah Ilmu dengan menuliskannya

Sudah Saatnya SARJANA KOMPUTER Indonesia GO INTERNATIONAL

Banyak orang di Indonesia kesulitan mencari kerja, sementara itu katanya di luar negeri banyak lowongan kerja terutama untuk bidang yang berhubungan dengan teknologi informasi, bidang “high-tech”. Betulkah demikian ? dan apa mungkin lulusan Perguruan Tinggi Indonesia bisa bekerja di luar negeri ?.

Mengutip sebuah survey yang telah dilakukan oleh PT Work IT Out yang dipimpin oleh Heru Nugroho, meski masih banyak dibutuhkan di dalam negeri, peluang kerja bagi tenaga kerja TI untuk keluar negeri pun terbuka luas, Kesempatan tetap terbuka, apalagi didukung oleh faktor bergesernya dominasi India yang dikenal sebagai sumber SDM TI, tawaran gajinya pun cukup menggiurkan. Bayangkan, untuk tenaga kerja TI kelas pemula sampai menengah, perusahaan di luar negeri berani menawarkan upah sekitar US$ 400 sampai US$ 600 (sekitar Rp 3, 6 juta sampai Rp 5,5 juta) per bulan. Di kelas yang sama di dalam negeri, paling mereka hanya ditawarkan gaji sekitar Rp 900.000 sampai Rp 2,5 juta per bulannya. Itu baru yang pemula. Untuk yang sudah punya keahlian spesifik dan berpengalaman, di luar negeri gajinya bisa mencapai US$ 2.000 – 2.500 (sekitar Rp 18,2 juta sampai 22,7 juta) per bulan. Tiga kali lipat dibanding di dalam negeri yang pasarannya sekitar Rp 7 sampai 10 juta.
Bidang kerja TI yang terbuka pun beragam dan hampir sama dengan yang ada di lokalan. Kebetulan kebanyakan yang dicari adalah engineer untuk networking dan wireless serta programmer. Kelihatannya trend yang sedang terjadi adalah orang atau perusahaan ingin membuat perangkat networking seperti produk dari Cisco. Untuk itu memang dibutuhkan banyak orang yang dapat membuat program dalam level C, C++ dengan real-time OS dan memiliki latar belakang (pengetahuan) di bidang telekomunikasi dan networking. Lowongan webmaster, UNIX administrator pun tidak sedikit. Jenis-jenis lowongan pekerjaan yang ditawarkan sangat banyak . Hanya saja, tenaga TI yang memiliki kemampuan terspesialisasi seringkali dicari, sayangnya agak susah mencari tenaga kerja yang sudah spesifik ini, dan kalau saya tuliskan mungkin daftar lowongan tersebut sepanjang artikel ini.
Nah, kalau melihat situasi seperti itu akan sangat mengenaskan jika orang Indonesia yang bergerak di bidang Teknologi Informasi tidak bisa mendapatkan pekerjaan semacam itu. Masalahnya memang tidak mudah. Mungkin memang kemampuan hasil perguruan tinggi di Indonesia tidak memadai ? Berapa banyak sih perguruan tinggi di Indonesia yang mampu menghasilkan “software engineer” yang handal ? Mungkin di Indonesia baru mampu menghasilkan programmer kelas papan bawah ? Jika memang anda programmer atau software engineer yang handal, apakah anda mengenal istilah-istilah ini: lex, yacc, compiler construction, grammer, token, CMM, dan sebagainya ?

Sebagai gambaran bahwa kebutuhan terhadap tenaga IT di bidang industri software baik di luar negeri maupun di dalam negeri, adalah sebagai berikut : Tenaga IT di luar negeri, untuk tahun 2015, diperkirakan 3,3 juta lapangan kerja. Sedangkan Tenaga IT domestik, berdasarkan proyeksi pertumbuhan industri pada tahun 2010 target produksi 8.195.33 US $, dengan asumsi produktifitas 25.000 perorang, dibutuhkan 327.813 orang

Selain contoh di atas, kita ambil negara lain seperti Jerman. Mengapa negara sekaliber Jerman mesti mendapat suplai tenaga TI dari luar negaranya ? Kurang sumber daya ? Dugaan itu ternyata betul. Perkembangan pesat teknologi informasi memang tidak hanya membuat ketar-ketir negara dunia ketiga, negara “dunia pertama” macam Jerman pun mulai merasakan akibatnya: kekurangan pakar TI yang tidak bisa didapatkan dari kalangan sendiri.
Maklum, jumlah yang dibutuhkan juga tak bisa dibilang sedikit. Tercatat saat ini sekitar 75.000 orang diperlukan oleh Jerman. Itu baru Jerman, belum negara lain. Tahukah Anda ternyata negara sebesar dan semaju Amerika Serikat pun masih mengimpor tenaga TI dari negara-negara di Asia, seperti India dan Cina. Nah, ini namanya peluang kan ?
Lowongan dari luar Indonesia untuk tenaga kerja TI kita banyak. yang tercatat pada kami bisa puluhan ribu lowongan,” jelas Edi S. Tjahya, managing director JobsDB.com – sebuah portal informasi lowongan kerja. Lowongan sebanyak itu pun baru untuk wilayah Asia Pasifik. Secara kualitatif, kondisi sumber daya manusia Indonesia di bidang IT tidak kalah kualitas dibanding SDM dari negara seperti India sekalipun, papar Heru Nugroho, CEO PT Work IT Out, sebuah perusahaan penyalur tenaga kerja TI ke luar negeri.

Di dalam negeri sendiri untuk layanan informasi publik, tenaga IT yang dibutuhkan untuk sektor ini, ialah tenaga untuk mengelola e-government. Perkembangan kebutuhan terhadap tenaga untuk mengelola e-governmet akan sejalan dengan perkembangan implementasi e-governement. Sebagai gambaran menyeluruh terhadap kebutuhan ini, dapat dilihat dari jumlah lembaga pemerintah pusat, kabupaten/kota dan lembaga lainnya. Berdasarkan kasus pengelola e-government di Kalimantan Timur, yang mengelola e-governemt untuk 14 layanan, menggunakan tenaga IT 11 orang, maka untuk seluruh instansi pemerintah, memerlukan paling sedikitnya memerlukan 5.489.

Sedangkan layanan komersial, tenaga IT di bidang ini ialah personil yang bekerja di bidang jasa di berbagai bidang dimana transaksi dengan konsumen dan kliennya menggunakan dukungan teknologi telematika, seperti e-bisnis, e-health yang dikelola swasta, e-education yang dikelola swasta, media saiber. Untuk media saiber, jika seluruh media cetak dan elektronik yang ada sekarang akan mengembangkan media saiber dengan perkiraan satu media menggunakan 21 tenaga IT, maka dibutuhkan 40.341.

Sebagai gambaran kebutuhan tenaga IT di bidang industri di bawah ini dikemukakan dalam konsep blue book yang disusun ITB (lihat http://www.bhtv.web.id).Tata Sutabri S.Kom,MM

20 Maret, 2007 - Posted by | Lain-lain

4 Komentar »

  1. Orang-orang terpelajar di Indonesia pada takut kali yah kerja di luar negeri, mungkin ngga “PeDe” dengan English-nya?
    Padahal dengan jumlah penduduk yang sekian juta orang, harusnya mereka jangan mengandalkan untuk dapat kerja di negeri sendiri, yang nantinya akan memberikan “PR” berat buat pemerintah didalam memberikan lapangan pekerjaan pada mereka.

    Salut dan “angkat topi” buat para TKI/TKW (supir dan pembantu rumah tangga), yang justru lebih berani “mengambil resiko” dengan bekerja di negeri orang, harusnya pemerintah memberikan penghargaan kepada mereka yang tidak “membebankan” pemerintah dan sebagai sumber devisa negara.

    Mari kita majukan negara Indonesia ini, dengan berani berusaha di negeri lain dengan ketrampilan dan keahlian, bukan hanya supir dan PRT saja yang dikirim.Tinggalkan slogan “makan tidak makan asal ngumpul” dan “hujan emas dinegeri orang,lebih baik hujan batu dinegeri sendiri”, akan mati kita bila slogan pesimis ini dipertahankan.

    Komentar oleh Santa Wijaya | 28 Maret, 2007

  2. Mari Go international.

    Komentar oleh dewo | 16 September, 2007

  3. Assalamualaikum wr.wb
    bagaimana dengan bidang teknik sipil pak?haruskah kita terus dijajah oleh bangsa asing?malaysia aja udah mulai macem-macem ma Indonesia tercinta,mungkin bangsa kita adalah bangsa pemimpi yang cuma bisa berangan,terlalu bangga dengan kejayaan majaphit atau sriwijaya di jaman bahola dulu, sampai sampai kita lupa ini udah 2008.saatnya bergerak,karna ide harus jadi karya.
    Tanya pak, klo dalam desain jembatan gantung, tinggi pilon yang optimum apa ya pak dasar-dasar penentuannya, ato philosopinya gitu, yang masih bisa memberikan kekuatan struktur tapi juga keindahan estetika?
    kritik pak ya….blognya lebih sering di up date donk!!terus isinya yang berbau sipil mana???kayak pak wiryanto dewobroto lecture UPH itu lho…tunjukkan donk kehebatan dosen UII
    wassalam

    Komentar oleh Dae Kristiawan | 26 Februari, 2008

  4. comment ku about it, ini PR pemerintah!
    teruslah berjuang Indonesia buktikanlah kepada semuanya khususnya negara-negara bahwa indonesia mempunyai SDM yg kualitasnya tidak kalah dengan negara lain.
    jangan berhenti sebelum berjuang alias tidak PD dengan bahasa. buatku bahasa tidak penting yang penting kualitas dr kemampuan orang itu sendiri.
    lagi pula bahasa kita bisa pelajari sambil berjalan. jangan kalah donk sama SDM negara lain!!
    Semangat…..Semangat….!!!

    Komentar oleh dEsTi | 20 November, 2008


Tinggalkan komentar